Friday, June 3, 2011

Action Plan

Dalam aliran teleologi, perubahan dipercaya dapat dipicu lewat sebuah rencana. Sebuah rencana yang baik, yang didukung oleh target-target yang terkendali dapat menggerakkan seluruh energi ke titik yang sama. Tentu saja, rencana yang saya maksud dapat terdiri aras dua atau tiga jenis rencana.

Yang pertama adalah rencana strategis yang berisi arah dan rujuan dalam jangka panjang. Dan yang kedua adalah rencana tindakan (action plan). Rencana ini harus dibuat tertulis, menyeluruh, lengkap dengan perincian sasaran, waktu, serta resources yang dibutuhkan.

Sekarang bagaimana kalau organisasi hanya memiliki satu jenis rencana saja, yaitu rencana strategis? Mengapa perusahaan/negara hanya mengembangkan rencana strategis (renstra) belaka?

Tentu saja ada banyak alasan. Banyak yang beranggapan rencana strategis dibuat atas dasar pesanan, yang diwajibkan oleh pihak-pihak tertentu. Karena datangnya bukan dari pelaku usaha, rencana straregis itu menjadi sekadar ada dan tidak bernyawa. Alasan lainnya, pemimpin kurang paham pemingnya strategic management.

Banyak pemimpin yang berpikir terlalu makro dan hanya mengandalkan kebijakan (policy) sebagai kegiatan utamanya. Mereka beranggapan policy dan insentif sebagai satu-satunya alat untuk menghasilkan suaru kinerja.

6 Strategi Menuju E-Government

Instruksi Presiden No 3 tahun 2003 tentang kebijakan dan strategi nasional pengembangan E-government tidak bisa dipungkiri adalah angin bagus bagi penerapan teknologi komunikasi dan informasi di pemerintahan. Seperti apa strategi pengembangan E-goverment?

Dalam lampiran Inpres E-goverment, dipaparkan enam strategi yang disusun pemerintah dalam mencapai tujuan strategis e-government. Antara lain:

Strategi pertama adalah mengembangkan sistem pelayanan yang andal, terpercaya serta terjangkau masyarakat luas. Sasarannya antara lain, perluasan dan peningkatan kualitas jaringan komunikasi ke seluruh wilayah negara dengan tarif terjangkau. Sasaran lain adalah pembentukan portal informasi dan pelayanan publik yang dapat mengintegrasikan sistem manajemen dan proses kerja instansi pemerintah.

Strategi kedua adalah menata sistem dan proses kerja pemerintah dan pemerintah daerah otonom secara holistik. Dengan strategi ini, pemerintah ingin menata sistem manajemen dan prosedur kerja pemerintah agar dapat mengadopsi kemajuan teknologi informasi secara cepat.

Strategi ketiga adalah memanfaatkan teknologi informasi secara optimal. Sasaran yang ingin dicapai adalah standardisasi yang berkaitan dengan interoperabilitas pertukaran dan transaksi informasi antarportal pemerintah. Standardisasi dan prosedur yang berkaitan dengan manajemen dokumen dan informasi elektronik. Pengembangan aplikasi dasar seperti e-billing, e-procurement, e-reporting yang dapat dimanfaatkan setiap situs pemerintah untuk menjamin keamanan transaksi informasi dan pelayanan publik. Sasaran lain adalah pengembangan jaringan intra pemerintah.

Strategi keempat adalah meningkatkan peran serta dunia usaha dan mengembangkan industri telekomunikasi dan teknologi informasi. Sasaran yang ingin dicapai adalah adanya partisipasi dunia usaha dalam mempercepat pencapaian tujuan strategis e-government. Itu berarti, pengembangan pelayanan publik tidak perlu sepenuhnya dilayani oleh pemerintah.

Strategi kelima adalah mengembangkan kapasitas sumber daya manusia, baik pada pemerintah maupun pemerintah daerah otonom disertai dengan meningkatkan e-literacy masyarakat. Strategi keenam adalah melaksanakan pengembangan secara sistematik melalui tahapan yang realistik dan terukur Dalam pengembangan e-government, dapat dilaksanakan dengan epat tingkatan yaitu, persiapan, pematangan, pemantapan dan pemanfaatan.

Inpres itu akan menunjuk Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) sebagai koordinator penerapan e-government di Indonesia. Menurut Menkominfo, Syamsul Muarif, masing-masing lembaga pemerintahan, baik pusat maupun daerah, akan membuat titik-titik sistem informasi secara mandiri. "Pemerintah ingin membangun sebuah masyarakat berbasis pengetahuan," kata Sekretaris Menkominfo, JB Kristiadi. Bisakah?

" Strategi AQUA Perkuat Positioning "

Siapa yg tidak tahu dgn produk AQUA. ketika kita butuh air mineral yg ada dibenak kita dan yang terlintas pastilah produk "AQUA".

Danone AQUA kembali menggelar Program AQUA untuk Keluarga Sehat Indonesia (AKSI) dengan tema Jelajahi Wahana Kebaikan Alam. Program tersebut akan diadakan pada 30-31 Januari 2010 di Plaza Utara Senayan Jakarta

Tani Sulaeman, Brand Director Danone AQUA, mengatakan bahwa AQUA menyadari pentingnya pengetahuan tentang alam dan kegiatan luar ruang bagi keluarga Indonesia, khususnya untuk tumbuh kembang anak. Oleh karena itu AKSI menjadi solusi bagi keluarga Indonesia yang ingin berekreasi sekaligus belajar tentang alam di tengah kota, terhindar dari kemacetan dan dapat dinikmati oleh seluruh keluarga.

Dalam acara ini, keluarga Indonesia dapat belajar melalui wahana-wahana yang ada, tentang bagaimana menjaga sekaligus mengeksplorasi alam. Manajer Pemasaran Danone Aqua, George Yudistira, mengemukakan bahwa para pengunjung dapat berkeliling ke puluhan wahana yang tersedia. Pengunjung bisa belajar membedakan kualitas air lewat berbagai alat peraga modern serta menyaksikan demo siklus air, hingga mencoba wahana permainan. Selain itu, tersedia juga wahana untuk berinteraksi langsung dengan satwa, serta menyaksikan pertunjukan panggung boneka.

Melalui wahana-wahana kebaikan alam yang tersedia pada AKSI 2010, keluarga Indonesia diharapkan memahami bahwa tidak semua air minum itu sama karena bergantung kepada kualitas sumber air tersebut. Air minum terbaik adalah yang berasal dari mata air pegunungan alami dan rata-rata berada pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, pada batuan vulkanik kuarter

Diperkirakan 100.000 orang akan menyemarakkan AKSI 2010, termasuk lebih dari 3.000 anak Sekolah Dasar dan panti asuhan di Jakarta. Selama dua hari penyelenggaraan acara, Danone Aqua akan membagikan 30.000 bibit pohon buah-buahan kepada para pengunjung untuk ditanam di rumah masing-masing.

Monday, December 21, 2009

Tsutsumi Model Ramah Lingkungan Pabrik Toyota

Memasuki halaman pabrik mobil Toyota Tsutsumi Plant di Aichi Prefecture, Nagoya, Jepang, seperti tidak sedang berada di suatu kawasan industri raksasa.

Bunyi mesin pabrik, yang biasanya bising, tak terdengar. Jalan di dalam kawasan pabrik itu mulus, lingkungan tertata apik, bersih dan asri. Padahal, selain Tsutsumi, ada dua pabrik Toyota lain yang posisinya berdekatan di tempat yang populer dengan nama Toyota City itu, yakni Takaoka dan Motomachi Plant.Yang terlihat justru hamparan kehijauan di area pabrik seluas 100 hektare lebih, mulai dari lahan parkir hingga ke atap bangunan. Bahkan, di beberapa tempat dibuat kolam ikan yang berisi air hasil penyulingan limbah cair pabrik.

Kondisi demikian memang menjadi komitmen Toyota Motor Corporation (TMC) sebagai produsen otomotif terbesar di Jepang. TMC yang juga berkantor pusat di kawasan tersebut, ingin membuat Tsutsumi Plant sebagai model industri berwawasan lingkungan yang komprehensif.

Bagi TMC, kendaraan hemat energi yang diproduksinya harus berasal dari pabrik yang ramah lingkungan dengan para pekerja dan komunitas sekitar yang juga cinta lingkungan. Semangat itu jelas terpancang dalam slogan TMC bahwa "Eco Cars are the Product of Eco plants and Eco-people".

Upaya membuat pabrik Toyota akrab dengan lingkungan sudah disiapkan manajemen TMC jauh-jauh hari. Toyota mencanangkan aspek lingkungan menjadi prioritas utama sebagaimana tertuang dalam Piagam Bumi atau The Toyota Earth Charter 1992. Inti dari piagam tersebut adalah komitmen Toyota untuk melakukan pendekatan lingkungan secara menyeluruh.

Tidak berhenti di situ, pada Juli 2007 manajemen Toyota mengumumkan tiga inisiatif berkelanjutan. Yakni berkelanjutan pada produk, berkelanjutan pada pabrik melalui monozukuri (hasil dari proses transformasi teknologi dan ketrampilan) serta aktivitas berkelanjutan lainnya yang berkontribusi pada kesejahteraan karyawan dan masyarakat sekitarnya.

Tsutsumi Plant yang memproduksi mobil hibrida Prius, kemudian ditunjuk sebagai model yang mampu mengharmonisasikan antara keberadaan pabrik dan lingkungan maupun penduduk lokal.

Sumber :
resiko manajemen

Tuesday, November 17, 2009

Mengatasi Sick Building Syndrome di Lingkungan Kerja

(managementfile - HR) - Apakah Anda sering mengalami pusing, alergi, hidung gatal, mata merah, dan sulit berkonsentrasi terutama ketika berada di kantor? Anda mungkin mengalami apa yang disebut Sick Building Syndrome (SBS). Apa itu SBS dan bagaimana cara mengatasinya?

SBS, menurut Wikipedia merupakan kombinasi dari sindrom yang terkait dengan lingkungan kerja atau tempat tinggal. Menurut WHO, penyebab dari SBS ini sebagian besar adalah kualitas udara ruangan yang kurang baik. Apa saja faktor-faktor yang mengakibatkan SBS ini?

Beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab SBS:
• air conditioner yang desainnya kurang baik
• pemeliharaan ventilasi kurang baik
• suhu,dan tingkat kelembaban yang terlalu tinggi
• kondisi kantor yang terlalu berisik
• udara yang terlalu kering
• polutan dalam ruangan, misalnya seperti serpihan yang berasal dari makanan, pakaian, sepatu, dan debu
• rendahnya jumlah ion negative di udara, yang salah satunya mengakibatkan aliran oksigen terhambat
• dan sejumlah kondisi buruk lain di lingkungan kerja, termasuk hubungan yang buruk dengan rekan kerja.

SBS ini sangat berbahaya, karena mengakibatkan dampak-dampak buruk bagi karyawan. Akibat lingkungan kerja yang kurang kondusif, maka karyawan jadi lebih sulit konsentrasi, akibatnya produktivitas berkurang, kepuasan kerja rendah, turnover karyawan tinggi, karyawan sering sakit sehingga tingkat absensi tinggi. Akibatnya, tentu kinerja perusahaan secara keseluruhan jadi tidak optimal.

Untuk mengatasi Sick Building Syndrome ini, maka dapat diimplementasikan beberapa solusi:
• Ajukan kepada atasan Anda untuk memasang ionizer, yang berfungsi untuk memperbaiki kualitas udara
• Taruh vas atau pot bunga yang berisikan tanaman hidup, selain meningkatkan kelembaban juga menghasilkan oksigen
• Jangan menggunakan lampu yang sinarnya terlalu terang dan menyilaukan
• Menjaga ruang kerja supaya tetap bersih, dimana tiap karyawan bertanggung jawab terhadap meja kerjanya. Debu yang berlebihan dapat mengakibatkan alergi dan SBS.
• Lakukan istirahat sejenak secara rutin, beranjak dari kursi dan berusaha mencari udara segar.
• Ketika jam istirahat, lakukan lunch di luar gedung, jangan makan sambil bekerja. Jika Anda terlalu sibuk, tetap usahakan istirahat keluar sejenak
• Jangan langsung masuk ke keramaian atau transportasi umum seusai bekerja. Jalanlah sejenak untuk menghirup udara segar.
• Jika langkah-langkah diatas gagal, maka hubungi atasan Anda untuk mengambil solusi yang lebih tepat.
Apakah Anda mengalami gejala-gejala SBS tersebut? Segera ambil langkah yang tepat untuk memperbaiki kondisi lingkungan kerja Anda.

sumber: http://managementfile.com

Menjadi Orang Yang Tepat Waktu

(managementfile - HR) - Siang itu Cicil terpaksa melewatkan jam makan siang bersama-sama dengan rekan geng makan siangnya. Supervisornya minta pekerjaan yang sudah jatuh tempo hari itu dan belum diselesaikan Cicil harus segera diselesaikan siang hari itu juga. Kalau bicara soal jam karet, memang tepat dialamatkan ke sosok yang bernama Cicil ini. Dalam segala hal sepertinya Cicil dikenal suka jam karet.

Sebenarnya tidak enak rasanya dikenal jika kita suka jam karet karena sedikit banyak itu akan mempengaruhi performance kita dimata atasan. Jika kita mau berbenah diri dan sadar bahwa sifat jelek ini bagai batu penghalang, berikut ini ada beberapa tips-tips yang dapat diterapkan dan menolong kita untuk mengubah image kita menjadi orang yang suka tepat waktu (alias tidak terpaksa untuk tepat waktu).

1. Berpikir positif
Bisa jadi sifat suka ngaret itu dimulai dari satu pemikiran yang salah dalam menilai diri sendiri. Sebelum memulai satu tindakan, dalam pikiran kita harus ditanamkan bahwa kita bisa berubah. Tidak ada istilah sulit jika kita mau berusaha dan tidak pasrah dengan kekurangan kita. Bayangkan juga satu kepuasan jika pada waktunya kita dapat menyelesaikan sesuatu. Setidaknya berpikir bahwa hal itu mendatangkan manfaat bagi diri sendiri (jika belum bagi orang lain).

2. Cari tahu hal apa yang membuat kita sering terlambat

Tidak perduli, takut, tidak percaya diri, rendah diri, demotivasi adalah beberapa faktor penyebab seseorang menjadi tidak suka tepat waktu. Sibuk membandingkan kekurangan diri sendiri dengan keberhasilan orang lain membuat waktu kita banyak terbuang sia-sia, alhasil target tidak tercapai. Untuk ini kita bisa minta masukan dari orang-orang terdekat untuk mengatasi hal-hal tersebut.

3. Daftarlah aktivitas harian dengan rinci

Perlu komitmen dan kedisiplinan untuk melakukan hal ini.Orang yang suka ngaret adalah orang yang tidak mau terikat dengan satu waktu. Dengan mencatat dan menentukan kapan dilakukannya, kita dapat belajar menetapkan diri pada satu waktu untuk ditepati tentunya.

4. Tentukan prioritas

Berapa banyak aktivitas yang harus dilakukan, yang terpenting adalah menetapkan skala prioritas sehingga pada akhirnya semua tugas dapat diselesaikan tepat waktu. Sehingga kalau terpaksa ada aktivitas yang harus dikorbankan, pilihlah dari prioritas terakhir.

5. Siapkan keperluan pada malam sebelumnya
Lebih cepat lebih baik. Slogan kampanye beberapa waktu yang lalu sepertinya tidak ada salahnya juga dipilih untuk satu tips ini. Secara mental, hal ini akan mempengaruhi usaha kita untuk memulai satu hari di hari dengan sukses untuk tepat waktu.

6. Jangan ragu untuk katakan tidak
Seringkali kita tidak mau menolak limpahan tugas dari rekan kerja/lainnya lebih karena merasa segan sehingga dengan over load malah membuat semuanya tidak selesai dan kacau. Jadi harus bisa berkata tidak pada waktu yang tepat.

7. Komitmen datang lebih awal, tidak hanya tepat waktu

Datang lebih pagi di kantor sedikit banyak akan membuat orang melihat bahwa kita punya komitmen untuk menjadi lebih baik. Secara mental juga akan membuat kita lebih siap, semangat, tanpa harus diburu-buru sehingga menolong kita lebih cepat untuk menyelesaikan semua tanggung jawab kita di kantor.

8. Aktifkan reminder pada HP Anda

Disarankan alarm ini dipasang beberapa waktu (hari/jam) sebelumnya sehingga kita memiliki waktu untuk melakukan persiapan.

9. Berikan reward pada diri sendiri

Pada saat kita berhasil menjadi tepat waktu, tidak ada salahnya kita memberikan reward bagi diri sendiri. Hal ini penting sebagai satu bentuk motivasi untuk kita menjadi lebih baik.

sumber: http://managementfile.com

Menjadikan Konsumen Sebagai Pemasar

(managementfile - Sales & Marketing) - Apakah kegiatan pemasaran yang efektif harus dilakukan melalui iklan atau promosi ? Mungkinkah kita bisa melakukan pemasaran tanpa pemasaran? Dapatkah kita menjadikan konsumen sebagai pemasar kita? Itulah ide dasar Brand Hijack. Alex Wipperfurth, penulis buku Brand Hijack, Marketing without Marketing mendefinisikan brand hijack sebagai pengambilalihan merek oleh konsumen. Untuk menciptakan merek yang diambil alih, ada dua elemen penting yang diperlukan yaitu merek itu sendiri dan konsumen.

Peran Merek
Calon merek yang diambil alih harus menawarkan suatu terobosan baru serta menjadi bagian dari gaya hidup, asosiasi atau aktivitas, dimana pemain pertama biasanya akan menjadi trend setter. Merek yang diambil alih juga harus memiliki kualitas. Kualitas bukan berarti semata teknologi yang lebih baik, melainkan pengalaman yang lebih baik.

Konsumen juga bukan lagi sekedar target pasar, melainkan partner. Sementara merek biasa hanya memperhitungkan volume penjualan dan keuntungan semata, merek yang diambil alih mengorbankan volume dan keuntungan pada awalnya guna mendapatkan orang yang tepat untuk memiliki pengalaman terhadap produk tersebut. Sementara merek biasa ditujukan untuk semua orang, merek yang diambil alih memiliki sejumlah rintangan bagi orang untuk mendapatkannya sehingga konsumen akan lebih mencintainya. Salah satu contoh adalah para penggemar fanatik merek Louis Vuiton yang rela mengantri demi mendapatkan merek yang mereka cintai.

Peran Pemasar

Selanjutnya, elemen kedua adalah konsumen yang mengambil alih merek tersebut. Ada sekelompok konsumen yang sangat fanatik terhadap suatu merek. Ada konsumen Nike ataupun Harley yang rela menato tubuhnya dengan logo produk tersebut. Kelompok ini disebut brand tribe yaitu sekelompok orang yang memiliki ketertarikan terhadap merek tertentu serta menciptakan nilai sosial paralel dengan nilai pribadi, ritual, kosa kata dan hierarkinya. Dengan demikian, riset pasar bukan hanya untuk wawancara biasa, melainkan harus mencakup antropologi untuk mengerti sub-budaya, ritual serta budaya konsumsi. Komunitas merek ini merupakan tren sosial yang berkembang saat ini.

Mengubah konsumen dari pemakai biasa menjadi orang yang fanatik terhadap merek. merupakan suatu perjalanan. Konsumen tersebut awalnya hanya sebagai anggota. Tahapan berikutnya, konsumen mengalami brandwash. Setelah itu, anggota brand tribe tersebut membantunya menciptakan sosial paralel. Akhirnya, konsumen tersebut mengikuti semua program yang ditawarkan merek tersebut. Sang merek memprogram apa yang dipikirkan serta dilakukan anggotanya.

Perjalanan menuju merek yang diambil alih terdiri dari tiga fase:

Fase pertama adalah tribal marketing, yakni pelanggan awal (early market) mengembangkan produk mereka. Pelanggan awal juga merupakan promosi yang baik melalui 'word of mouth' sekaligus membentuk jaringan atau komuniti. Dengan demikian, memilih pasar awal yang baik, yang memiliki keahlian, waktu serta penghargaan terhadap merek merupakan hal yang kritis.

Fase kedua adalah ko-kreasi. Setelah pelanggan awal tersebut terbentuk, mereka akan mengambil alih pesan dari merek tersebut.

Pada fase berikutnya, pasar utama yang besar telah siap mengadopsinya. Pada tahap ini, yang harus dilakukan adalah menjaga momentumnya. Saat ini, fokus kita bukan lagi hanya apakah merek itu ataupun apa yang dilakukan merek itu, tetapi sudah menawarkan fungsi budaya, yakni apakah arti merek itu. Ide dasar yang hendak dikemukakan adalah: menjadikan konsumen sebagai pemasar, serta menjadikan merek kita sebagai budaya.

sumber: http://managementfile.com

8 Level Proses Analisa Untuk Pengambilan Keputusan

(managementfile - Risk) - Risk management merupakan strategi untuk mengelola risiko dalam rangka mencapai tujuan. Hal yang sangat dibutuhkan oleh manajemen risiko adalah data dan analisa. Keduanya punya peranan yang sangat penting dalam menentukan pengambilan keputusan krusial dalam manajemen risiko.

Menurut SAS, terdapat delapan level proses analisa (analytics) yang digunakan dalam bisnis. Empat level pertama merupakan business intelligence dan umum dilakukan oleh semua perusahaan, serta lebih melihat aktivitas yang sudah berlalu. Keempatnya mendukung pengambilan keputusan reaktif, yakni memahami fakta setelah terjadinya sesuatu. Sementara itu, empat level terakhir mendukung pengambilan keputusan proaktif, dimana berusaha untuk berinovasi dan memprediksikan apa yang terjadi di masa mendatang.

Dalam manajemen risiko, kebutuhannya tentu hingga level terakhir, karena manajemen risiko memang harus mampu memprediksikan risiko-risiko apa saja yang potensial, dan mengukur bagaimana dampaknya, serta tindakan apa yang akan dilakukan.

Berikut ini adalah kedelapan level proses analisa:

1. Standard Report
Report ini hanya berisikan informasi-informasi yang standar, dihasilkan secara rutin, dan hanya menjelaskan apa yang terjadi dan kapan terjadinya. Sederhana namun bermanfaat, hanya saja tidak dapat dimanfaatkan untuk mengambil keputusan jangka panjang. Contohnya adalah laporan keuangan kuartalan.

2. Ad Hoc Report
Report ini memberikan informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan report standar, dan lebih customized. Report ad hoc memungkinkan Anda untuk mengajukan pertanyaan serta mendesain laporan yang customized untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan yang lebih detail seperti dimana, seberapa banyak, hingga seberapa sering.

3. Query Drilldown
Tingkat analisa selanjutnya lebih mendalam lagi, yakni query drilldown, yang sudah berusaha untuk menemukan jawaban akan sesuatu. Pada tahap ini Anda berusaha mencari tahu dimana letak permasalahan, serta bagaimana solusinya. Contohnya adalah perusahaan berusaha untuk melakukan observasi terhadap perilaku konsumennya yang berbeda-beda.

4. Alerts
Tingkat selanjutnya adalah Alerts, yang akan memberikan indikasi ketika terjadi masalah, dan memberikan notifikasi jika hal yang serupa terjadi di masa depan. Alerts bisa muncul di mana saja, mulai dari RSS feeds, email, hingga indicator merah pada scorecard ataupun dashboard Anda. Di tahap ini, Anda selanjutnya akan merespon alert tersebut dengan mengambil tindakan yang diperlukan.

5. Statistical Analysis

Kemudian di tingkat kelima ada analisa statistic yang merupakan perhitungan rumit seperti regresi, korelasi dan sebagainya. Analisa statistic ini digunakan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan menjawab pertanyaan, berdasarkan pada data yang dimiliki. Selain dapat berfungsi untuk menjelaskan suatu data, analisa statistic juga dapat memperlihatkan pada Anda peluang yang mungkin terlewatkan.

6. Forecasting

Forecasting merupakan aktivitas yang diperlukan oleh semua bisnis, karena memungkinkan kita untuk melakukan perkiraan terhadap permintaan. Sehingga, kita dapat melakukan estimasi terhadap persediaan, sehingga tidak kurang ataupun berlebih. Forecasting juga memungkinkan estimasi terhadap kebutuhan finansial

7. Predictive Modeling
Selanjutnya, Predictive Modeling memungkinkan kita untuk melakukan prediksi jika terdapat suatu pemicu (event) tertentu. Misalnya, jika kita mau meluncurkan promosi tertentu, maka harus diperkirakan terlebih dahulu bagaimana respon masing-masing segmen pasar, sehingga Anda dapat menerapkan promosi yang paling sesuai dengan masing-masing target pasar.

8. Optimization

Optimization adalah usaha untuk pengambilan keputusan terbaik, dengan mengalokasikan sumber daya secara optimal sesuai dengan kebutuhan, sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Misalnya, Anda berusaha untuk mengalokasikan SDM, materi dan dana yang dialokasikan untuk proyek tertentu.

Langkah-langkah analisa tersebut sangat bermanfaat untuk melaksanakan manajemen risiko ataupun menyusun strategi. Hanya saja, dengan melakukannya tidak lantas menjamin suksesnya sebuah organisasi. Data-data yang ada harus terintegrasi dengan baik, dianalisa, kemudian dicarikan solusi yang tepat. Solusi atau implementasi dari pengambilan keputusan inilah yang kemudian menentukan kesuksesan dari organisasi.

sumber: http://managementfile.com

Monday, October 26, 2009

Yum! Brands Makin Solid di Cina

(managementfile - Strategic) - Sebagian dari Anda mungkin tidak tahu bahwa Yum! Brands merupakan brand utama yang memiliki restoran-restoran fast-food seperti KFC dan Pizza Hut di seluruh dunia. Di tengah kondisi krisis perekonomian global saat ini, Yum! Brands yang berfokus pada segmen pasar Cina berhasil membukukan kinerja yang tetap solid.

Sepanjang tahun 2008 ini, Yum! Brands makin berfokus pada segmen pasar Cina, seiring dengan pelemahan global yang terjadi pada belahan dunia lainnya. Tahun lalu, terdapat lebih dari 500 restoran yang dibuka di Cina. Hasilnya, pertumbuhan penjualan di Cina mencapai 11%, sehingga menutupi pelemahan 5% yang terjadi di AS.

Pertumbuhan laba operasi perusahaan secara year-on-year mencapai 32%, dimana 15% pertumbuhan tersebut berasal dari Cina. Sementara itu, secara keseluruhan laba terangkat juga karena pertumbuhan laba di AS naik 18% disebabkan oleh biaya yang juga anjlok. Bagaimana strategi mereka dalam meraih pasar Cina?

Strategi Memenuhi Selera Lokal
Konsumsi Cina yang solid dipadu dengan suksesnya paket stimulus pemerintah dan ketersediaan kredit tak pelak merupakan kunci utama yang menjadikan perekonomian Cina solid. Hanya saja, strategi Yum! Brands yang jitu menjadi salah satu kunci penting yang menjadikan mereka unggul dalam persaingan yang ketat di Cina.

Pertama, restoran-restoran Yum! Brands punya positioning yang kuat di Cina. Restoran-restoran ini memang sudah punya sejarah yang panjang, namun selalu punya sesuatu yang baru sehingga dapat menarik orang, entah itu melalui promosi, fasilitas maupun produk baru.

Salah satu strategi utama dari franchise mereka yang terdapat di seluruh dunia, terutama Pizza Hut dan KFC adalah mereka selalu beradaptasi dengan selera local, tidak hanya selera asli Amerika. Misalnya seperti di Cina, menunya antara lain pizza ikan tuna, cumi panggang, sup udang, berbagai hidangan nasi dan dagin, hingga the hijau dan chocolate mousse cake.

Perhatian Yum! Brands terhadap kesehatan juga menjadikan positioning mereka makin kuat, dan menjadi salah satu diferensiasi dengan merek lain. Mereka menambahkan salad dan makanan yang lebih ringan di menu. Hal ini didasari pada fakta bahwa proporsi orang yang mengalami obesitas di AS semakin meningkat. Masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya kesehatan tentunya akan memilih restoran-restoran ini.
Cara salah satu merek mereka, yakni KFC dalam berpromosi antara lain menargetkan iklan yang meningkatkan taraf hidup dari masyarakat. Misalnya, mengenai program-programnya seperti First Light Foundation yang menyediakan beasiswa kuliah hingga turnamen basket 3-on-3. KFC juga menjalankan promosi yang bersifat edukasi mengenai nutrisi serta lifestyle yang seimbang.

Yum! Brands juga mengadopsi strategi jangka panjang yakni melakukan efisiensi dengan kadang menaruh tiga dari merek mereka dalam satu restoran dan satu dapur saja. Memang butuh pelatihan dan perlengkapan lebih, namun ini meningkatkan volume pelanggan secara signifikan. Keputusan ini juga lebih ekonomis terutama di tempat yang populasinya cenderung kecil atau harga propertinya (investasi) cenderung mahal.

Pilihan Yum! Brands untuk berfokus pada konsumen Cina merupakan strategi yang sangat tepat. Makanan adalah kebutuhan pokok, dan selama Yum! Brands dapat memahami keinginan, kebutuhan dan selera konsumen dengan baik, maka Cina akan terus menjadi pasar yang menguntungkan. Sejak merambah ke Cina, bisnis mereka semakin besar, dan kemungkinan ke depannya akan makin besar saja seiring dengan pasar Cina yang makin besar.

sumber: managementfile.com

Disney Akuisisi Marvel $4 Miliar, Perluas Jaringan Konglomerasi Dunia Hiburan

(managementfile - Strategic) - Disney dikabarkan telah setuju untuk mengakuisisi Marvel Entertainment senilai $4 miliar yang akan dibayarkan secara tunai dan saham. Bergabungnya Marvel dalam kerajaan Disney ini diperkirakan akan memberikan dampak signifikan dalam industri hiburan.

Akuisisi #2 Terbesar Disney
Akusisi senilai $4 miliar ini merupakan salah satu akuisisi terbesar Disney sepanjang sejarah. Nilainya hanya bisa dikalahkan oleh akuisisi terhadap Pixar sebesar $7.4 miliar pada tahun 2006. Kesepakatan ini memberikan hak bagi Disney terhadap lebih dari 5,000 karakter, lisensi, publikasi serta produksi film Marvel.


Disney merupakan konglomerasi media dan hiburan terbesar di dunia saat ini, dengan berbagai bisnisnya yang terdiversifikasi mulai dari studio film, label musik, theme park, televisi, radio, hingga travel. Sementara itu, Marvel Entertainment merupakan perusahaan hiburan yang populer dengan karakter-karakter komiknya seperti Iron Man, Incredible Hulk, Captain America, X-Men, dan lainnya yang kemudian juga diproduksi sebagai film.

Pangsa Pasar Baru Bagi Disney
Selama ini, karakter-karakter Marvel seperti Iron Man ataupun X-Men dan lainnya, lebih menarik bagi laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Sementara, Disney sendiri selama ini lebih sukses dengan pangsa pasar perempuan, dengan acara seperti High School Musical, Hannah Montana hingga the Jonas Brothers. Jadi, mengakuisisi Marvel akan menjadikan Disney memperluas pangsa pasarnya terutama kepada laki-laki.

Disney selanjutnya akan menguasai lebih dari 5000 karakter Marvel yang sangat menarik bagi remaja hingga orang dewasa, dan bertahan hingga beberapa generasi. Menurut CEO Disney, Robert Iger, ia terutama tertarik dalam kesuksesan Marvel mengubah karakter komik menjadi film blockbuster, hal yang tidak dimiliki Disney.

Sementara itu, tidak hanya Disney yang menangguk keuntungan dari Marvel Entertainment. Marvel sendiri dapat memanfaatkan kekuatan pemasaran dan jaringan Disney yang terdapat di seluruh dunia untuk mempromosikan karakter komik maupun film produksinya. Sehingga, ini menjadikan Disney dan Marvel sebagai pasangan yang serasi.

Disney terkenal sebagai perusahaan yang mengutamakan customer experience di posisi teratas. Service yang mengagumkan selalu menjadi fokus bagi Disney. Beragamnya karakter Marvel akan memberikan Disney kesempatan untuk mengeksplorasi karakter-karakter tersebut, melakukan branding yang kuat dan memberikan customer experience yang baru.

Hanya saja, Disney tidak bisa langsung menggunakan seluruh karakter Marvel karena terdapat kesepakatan lisensi Marvel dengan studio lain. Misalnya, Sony Columbia Picture yang sedang menggodok tiga sequel Spider-Man; 20th Century Fox punya franchise terhadap film X-Men, Fantastic Four, Silver Surfer dan Daredevil. Serta Paramount Picture yang punya kesepakatan distribusi untuk lima film Marvel, salah satunya adalah Iron Man 2.

Jadi, bagaimana kelanjutan akuisisi ini, apakah akan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak? Kita tunggu saja perkembangannya.

sumber: managementfile.com

Monday, October 19, 2009

Diversifikasi - Salah Satu Kunci Growth

Growth selalu menjadi tujuan yang berusaha untuk dicapai oleh bisnis. Salah satu kunci utama dari growth berasal dari keberhasilan peluang bisnis baru. Oleh karena itu, penting bagi bisnis untuk peka dalam melakukan identifikasi peluang-peluang baru yang berpotensi menghadirkan growth.

Suatu bisnis tentunya ingin selalu berkembang menjadi lebih besar. Untuk melakukannya, maka bisnis memerlukan growth. Menurut matriks Product-Market Growth yang dibuat oleh Igor Ansoff, dan dipublikasikan pertama kali pada artikelnya di Harvard Business Review tahun 1957, bisnis punya beberapa opsi untuk mencapai growth, diantaranya:

1. market penetration, dimana bisnis masuk ke dalam pasar yang sekarang, dengan produk yang ada sekarang. Umumnya ini dapat dicapai dengan menambah promosi, sehingga Anda dapat merebut pangsa pasar pesaing.

2. product development, yakni menargetkan pasar yang ada sekarang, namun dengan produk yang baru.

3. market development, dimana bisnis berusaha menggapai pasar baru dengan produk yang ada sekarang. Hal ini dapat dicapai misalnya dengan melakukan repositioning, sehingga produk/jasa Anda dapat menarik bagi pangsa pasar yang baru.

4. diversifikasi, yakni bisnis berusaha memperoleh pasar baru, dengan produk yang sama sekali baru.

Read More

Tuesday, December 9, 2008

3 Langkah Praktis Mewujudkan Ide Cemerlang Anda Menjadi Pundi-Pundi Uang

Bisnis internet itu intinya cuma satu, segera bertindak! Apapun ilmu yang anda dapat, berapapun ilmu yang anda pelajari, tidak ada ada gunanya kalau tidak segera dipraktekkan!

Langkah pertama anda akan menentukan sejauh mana keberhasilan anda. Anda pasti pernah nonton MOTO GP atau Formula 1. Valentino Rossi dan Schumacher tidak akan bisa jadi juara kalau mereka tidak melakukan start yang bagus. Artinya, kecepatan langkah pertama sangat menentukan kesuksesan yang mereka raih. Begitu juga dalam dunia bisnis. Siapa cepat dia dapat! Maksud saya, kecepatan anda dalam merintis bisnis akan memberi nilai tambah yang lumayan untuk kesuksesan anda.

Menjadi pelopor itu lebih baik daripada pengekor. Ya, karena produk pelopor inilah yang akan terus diingat orang. Nah, sekarang ide apa yang ada di kepala anda? Apa rencana untuk bisnis anda ke depan? Segera wujudkan! Segera eksekusi!

Banyak orang berbondong-bondong terjun di bisnis internet. Banyak orang menginvestasikan waktu dan tenaga mereka di depan monitor komputer. Tapi, tidak banyak yang bisa berhasil gemilang. Kenapa? Karena jarang ada yang bisa mengawal ide bisnis sampai ke puncak sukses. Kita terlalu lambat melangkah dan terlalu banyak berpikir. Padahal pada dasarnya, kita cuma learning by doing. Belajar sambil bekerja. Benar, sambil terus belajar kita juga harus mengerjakan apa yang sudah dipelajari. Dengan begitu, apapun ide yang anda telurkan bisa segera dierami dan menetas sempurna.

Bagaimana dengan anda? read more

3 Langkah Praktis Mewujudkan Ide Cemerlang Anda Menjadi Pundi-Pundi Uang

Bisnis internet itu intinya cuma satu, segera bertindak! Apapun ilmu yang anda dapat, berapapun ilmu yang anda pelajari, tidak ada ada gunanya kalau tidak segera dipraktekkan!

Langkah pertama anda akan menentukan sejauh mana keberhasilan anda. Anda pasti pernah nonton MOTO GP atau Formula 1. Valentino Rossi dan Schumacher tidak akan bisa jadi juara kalau mereka tidak melakukan start yang bagus. Artinya, kecepatan langkah pertama sangat menentukan kesuksesan yang mereka raih. Begitu juga dalam dunia bisnis. Siapa cepat dia dapat! Maksud saya, kecepatan anda dalam merintis bisnis akan memberi nilai tambah yang lumayan untuk kesuksesan anda.

Menjadi pelopor itu lebih baik daripada pengekor. Ya, karena produk pelopor inilah yang akan terus diingat orang. Nah, sekarang ide apa yang ada di kepala anda? Apa rencana untuk bisnis anda ke depan? Segera wujudkan! Segera eksekusi!

Banyak orang berbondong-bondong terjun di bisnis internet. Banyak orang menginvestasikan waktu dan tenaga mereka di depan monitor komputer. Tapi, tidak banyak yang bisa berhasil gemilang. Kenapa? Karena jarang ada yang bisa mengawal ide bisnis sampai ke puncak sukses. Kita terlalu lambat melangkah dan terlalu banyak berpikir. Padahal pada dasarnya, kita cuma learning by doing. Belajar sambil bekerja. Benar, sambil terus belajar kita juga harus mengerjakan apa yang sudah dipelajari. Dengan begitu, apapun ide yang anda telurkan bisa segera dierami dan menetas sempurna.

Bagaimana dengan anda? read more

Thursday, November 27, 2008

RockYou, Besar Lewat Social Networking
Oleh: Rinella Putri

(Vibiznews – Leadership) – Seandainya Anda aktif di situs social networking seperti Facebook. MySpace maupun Friendster pasti sudah tidak asing lagi dengan berbagai aplikasi yang dikembangkan RockYou seperti SuperWall, Vampires, Emote, hingga Likeness. Berikut ini adalah kisah sukses RockYou, yang kini merupakan salah satu pengembang widget terpopuler di internet.

RockYou merupakan developer widget paling populer di internet. Dulu berawal dengan mengembangkan widget slideshow untuk MySpace, dimana ide muncul ketika kedua pendiri RockYou menyadari bahwa setiap orang ingin memperbaiki penampilan profilnya. Dalam waktu singkat, nyatanya widget tersebut sukses. Kini, widget yang dikembangkan sudah semakin beragam dan merambah ke Facebook.

Sejarah Berdiri
RockYou awalnya dirintis oleh Lance Tokuda dan Jia Shen pada tahun 2006, yang merupakan rekan kerja di Iconix, sebuah developer software dimana saat itu mereka bekerja sama dalam proyek slide show foto. Aplikasi pertama mereka juga berupa slideshow, sehingga sempat dituntut oleh Iconix atas pelanggaran kekayaan intelektual. Namun, akhirnya keduanya sepakat untuk menempuh jalan damai di luar jalur pengadilan.

Sekitar pertengahan 2007, RockYou kemudian menjadi salah satu perusahaan yang turut berpartisipasi dalam open platform ala Facebook yang mengizinkan pihak ketiga untuk mengembangkan aplikasi software-nya bagi Facebook. Aplikasi-aplikasi RockYou yang populer di Facebook mungkin sudah tidak asing lagi bagi Anda, diantaranya Photos and
Slideshows, Emote, SuperWall, Vampires, Zombies, Likeness, Hug Me dan Horoscope.

Model Bisnis
Lalu bagaimana dengan hanya mengembangkan aplikasi/widget saja, RockYou bisa mendulang kesuksesan? Tentu saja kuncinya adalah dengan menjual space iklan pada aplikasi-aplikasi yang mereka keluarkan. Misalnya, seperti yang disampaikan Jia Shen kepada Forbes, ketika Sony Pictures ingin mempromosikan film terbaru mereka Resident Evil, mereka mengiklankan film tersebut pada aplikasi Zombies. Untuk masing-masing aplikasi, mereka menerapkan strategi yang berbeda dalam meraup uang, namun mereka tidak membeberkan detailnya.

Model bisnis yang dijalankan oleh Facebook memungkinkan banyak pihak untuk mengembangkan bisnis, berbeda dengan social networking lain yang kebanyakan belum membuka diri untuk iklan. Kunci perkembangan mereka juga ada pada sistem Facebook yang memungkinkan adanya news-feed sehingga aktivitas seorang user bisa langsung diketahui oleh user lain saat itu juga. Sehingga semakin banyak aplikasi tersebut digunakan, maka efek multipliernya juga semakin besar. Selain itu, aplikasi-aplikasi tersebut pada umumnya juga meliputi invitation request yang mendorongnya untuk jadi makin populer.

Saat ini, RockYou merupakan salah satu market leader dalam hal pengembang widget. SuperWall tercatat sebagai aplikasi terpopuler di Facebook. Sementara itu, menurut data bulan Juni lalu, dengan widget dan aplikasi sekitar 50 buah, mereka berhasil mencatatkan pengunjung unik hingga 88.9 juta per bulannya. Pesaing utama mereka adalah Slide, dan dengan semakin populernya social networking, rasanya mereka akan berkembang semakin besar.

Ref : Strategic Management


Mungkinkah Menghitung ROI Social Media?
Oleh: Rinella Putri

(Vibiznews – Strategic) – Salah satu masalah yang menjadi hambatan korporat dalam menggunakan social media secara optimal adalah karena sulit menghitung return on investment (ROI)-nya. Meskipun sulit untuk diukur, namun sebaiknya perusahaan mempertimbangkan untuk memanfaatkan social media, karena manfaatnya juga cukup besar.

Kesulitan Mengukur ROI
Salah satu metric yang mungkin bisa Anda manfaatkan adalah Online Promoter Score (OPS) yang dikembangkan oleh MotiveQuest yang digunakan untuk mengukur efektivitas brand advocacy atau rekomendasi terhadap mereknya. Ini adalah metrik pertama yang menunjukkan korelasi antara advocacy online dengan penjualan.

Sejatinya, efektivitas social media sulit sekali diukur secara kuantitatif. Mengapa? Karena fokus social media ada pada interaksi, sementara itu, hasil dari interaksi tersebut sulit untuk diukur. Menjalin hubungan melalui social media merupakan proses yang berlangsung secara kontinu. Anda tidak bisa bergabung dengan social media, tidak aktif berinteraksi, lalu kemudian langsung memetik manfaatnya. Seperti yang sudah dikemukakan, Anda perlu melakukan komunikasi dua arah untuk mencapai hasil yang optimal.

Aktif di social media itu layaknya berinvestasi, investasi dengan menjalin hubungan dengan orang lain. Meskipun return investasinya sulit untuk diukur, pastikan bahwa biaya untuk melakukannya tidak melebihi manfaat yang diperoleh. Luangkan waktu untuk menjalin hubungan dengan orang lain melalui social media, dan Anda akan memperoleh returnnya dalam jangka panjang.

Manfaat
Berikut ini adalah beberapa manfaat utama yang Anda peroleh melalui penggunaan social media.

Reputasi
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Burston Mastellar dan majalah PRWeek, perusahaan yang melakukan social networking mengaku bahwa manfaat terbesar yang diperoleh adalah meningkatkan reputasi perusahaan/brand. Melalui social networking, maka perusahaan bisa menjalin hubungan dengan stakeholder yang terkait dengan bisnisnya. Sehingga, dengan cara tersebut, maka reputasi perusahaan akan terangkat karena selalu terlibat pembicaraan dengan aktif dan memberikan respon terhadap isu yang muncul mengenai perusahaan Anda.

Awareness
Dengan melakukan interaksi secara aktif memanfaatkan social media, maka tentunya perusahaan/ merek Anda akan lebih ‘terlihat’, sehingga meningkatkan brand awareness terhadap konsumen. Jika Anda aktif dalam berkomunikasi, biasanya orang juga akan memberikan respon, sehingga terjadi komunikasi dua arah yang saling menguntungkan untuk kedua belah pihak.

Penjualan
Tujuan akhir dari berinteraksi melalui social media tentu saja tetap bottom line. Jika reputasi perusahaan terangkat dan brand awareness meningkat, maka diharapkan penjualan juga akan meningkat. Namun ingat, jangan berharap hasil instant akan berpengaruh terhadap penjualan.

Ref : Strategic Management


Survey Social Media: Hanya Mengangkat Reputasi?
Oleh: Rinella Putri

(Vibiznews – Strategic) – Social networking kini memang sedang booming, bahkan pemakaiannya kini semakin berkembang dari level personal menjadi korporat. Eksekutif kini mulai menggunakan situs social networking untuk berkomunikasi dengan stakeholder. Baru-baru ini konsultan PR Burston-Marsteller dan majalah PRWeek melakukan survey yang dilakukan terhadap CEO di AS mengenai social media. Berikut ini adalah ulasan dan analisanya.

Pengaruh Media
Media manakah yang pengaruhnya dalam bisnis meningkat dalam tiga tahun belakangan ini? Jawabannya ternyata bukan koran, majalah maupun televisi. Word-of-mouth ternyata dipilih oleh 60% responden sebagai media yang pengaruhnya lebih besar, baru disusul oleh media tradisional (54%) serta blog (50%). Hanya segelintir responden yang menganggap majalah mingguan seperti Time dan Newsweek kini lebih berpengaruh dibandingkan dengan tiga tahun lalu.

Social media, seperti halnya Facebook ataupun blog, rupanya sering digunakan oleh para CEO untuk tujuan pribadi. Menurut statistic survey, tercatat sekitar 43% CEO mengaku menggunakan media-media tersebut setidaknya beberapa kali dalam seminggu. Namun, benarkah mereka menggunakannya untuk kepentingan korporat? Nyatanya, kurang dari seperlima atau tepatnya 18% yang memanfaatkan social media sebagai alat untuk berkomunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders).

Facebook, dipilih oleh 78% merupakan yang paling populer sebagai sarana komunikasi dengan stakeholders, disusul oleh MySpace (44%) dan Youtube atau situs video sharing lainnya(44%). Sementara itu Twitter, yang juga digunakan oleh perusahaan besar seperti General Motors, Dell, Southwest dan Zappos hanya dimanfaatkan oleh 19% responden.

Mengapa baru sedikit yang memanfaatkan social media sebagai sarana berkomunikasi dengan stakeholder? Ternyata karena masih banyak yang masih meragukan efektivitasnya. Hanya sekitar 29% responden yang menyatakan bahwa media tersebut ‘sangat efektif’ ataupun ’sangat efektif sekali’. Sementara itu 43% beranggapan ‘somewhat atau cukup efektif’. Namun masih ada 29% yang berpendapat bahwa media tersebut ‘tidak terlalu efektif’ dan ‘sama sekali tidak efektif’.

Salah satu alasan baru segelintir yang memanfaatkan social media adalah karena sebagian besar responden yakni 62% beranggapan bahwa social media paling berpengaruh terhadap reputasi. Hanya sekitar 48% yang percaya bahwa social media dapat mempengaruhi penjualan barang maupun jasa.

Apa yang menghambat mereka untuk aktif memanfaatkan social media antara lain adalah karena kurang relevan dengan kelompok target stakeholder (45%) diikuti oleh kekhawatiran kurang bisa mengontrol persebaran pesan (37%).

Strategi Social Media
Salah satu hambatan eksekutif dalam memanfaatkan social media adalah kurang relevan dengan target stakeholder, salah satunya pelanggan. Memang tidak semua tipe pelanggan bisa dicapai melalui social media secara langsung. Untuk pelanggan yang termasuk kaum urban, dalam usia muda hingga paruh baya, yang punya koneksi internet dengan baik, tentunya social media ini cocok. Namun jika target pelanggan merupakan ibu-ibu maupun anak-anak, rasanya social media memang ada pengaruhnya, namun tidak langsung.

Social media juga lebih cocok digunakan oleh perusahaan yang lebih mengutamakan jasa dan menjalin hubungan dengan pelanggan. Banyak perusahaan besar misalnya yang memanfaatkan Twitter sebagai perangkat yang menunjang customer service. Pernah suatu kali seorang penumpang mengungkapkan ketidakpuasannya di Twitter mengenai penerbangan Southwest yang ditunda dan kopernya yang hilang. Kemudian Twitter merespon dengan memohon maaf dan menjanjikan pengalaman penerbangan yang lebih baik di masa depan. Ketika Southwest menepati janjinya, penumpang tersebut kemudian menceritakan pengalamannya di blog.

Jadi, benarkah social media hanya berpengaruh terhadap reputasi saja? Saya berpendapat tidak. Seperti dalam kasus Southwest diatas, melalui komunikasi dua arah antara perusahaan dengan stakeholder, maka perusahaan bisa menanamkan persepsi maupun mengubah pendapat/persepsi dari stakeholder, yang akhirnya bisa berpengaruh terhadap penjualan.

Melalui social media, kini informasi menyebar dengan luar biasa cepat. Sehingga, perusahaan dapat menggunakan social media untuk menyebarkan informasi secara lebih cepat pula. Menurut saya, kunci sukses social media adalah perusahaan harus melakukan komunikasi dua arah dengan stakeholder.

Ref : Strategic Management